Print
PDF

Oktober, Dua Proyek Tol Ditenderkan

Jakarta – Investor Daily (04/09/2012) : Pemerintah menargetkan proyek tol Serpong-Balaraja dan Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi ditender Oktober mendatang. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Achmad Ghani Gazali mengatakan, hanya dua proyek tol tersebut yang siap ditenderkan tahun ini.

“Saat ini, kami masih memfinalisasi draft kualifikasi tender sehingga Oktober semua bisa selesai dan proyek bisa langsung ditenderkan,” kata Ghani di Jakarta, Senin (3/9).

Dia menuturkan, proyek tol Serpong-Balaraja sepanjang 36.30 kilometer itu menelan biaya investasi sebesar Rp 6,5 triliun. Sedangkan, tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi sepanjang 62.40 kilometer, membutuhkan dana investasi Rp 5,6 triliun.

Menurut Ghani, lelang prakualifikasi tender kedua proyek tol tersebut bisa dilakukan meskipun proses pembebasan lahan belum sepenuhnya tuntas. Hal tersebut mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) No 56/2011 tentang penggantian Peraturan Presiden 13/2010 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam penyediaan Infrastruktur.

Dia berharap proses prakualifikasi dapat dilaksanakan sejalan dengan proses pengadaan tanah. Selanjutnya proses pembebasan lahan diharapkan dapat dituntaskan sesuai jadwal, yakni akhir 2012, atau paling lambat pertengahan 2013.

“Kami juga telah membentuk tim khusus percepatan pembebasan lahan untuk proyek tol dan nontol Medan – Kualanamu,” jelas dia.

Di sisi lain, Ghani mengungkapkan sudah ada dua investor yang meminati saham proyek tol Serpong – Balaraja, yakni PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) dan PT Nusantara Infrastructure.

Saat ini pemerintah juga menunjuk PT Bumi Serpong Damai (BSD) sebagai pemrakarsa rencana proyek pembangunan ruas tol Serpong – Balaraja. Penunjukan dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pekerjaan Umum pada 29 Februari 2012 terkait persetujuan rencana pembangunan jalan tol tersebut.

Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto mengatakan, pemerintah melalui surat keputusan tersebut telah meminta Bumi Serpong Damai untuk memulai pelaksanaan pra-feasibility study (studi kelayakan) dan pembuatan desain dasar ruas tol.

Menurut dia, penerbitan surat keputusan itu sebagai bentuk persetujuan pemerintah terkait pembangunan ruas jalan tol tersebut meskipun rencana proyek tol Serpong – Balaraja tidak masuk dalam prioritas pemerintah. Namun demikian, pemerintah tetap menyetujui pembangunan jalan tol, karena kebutuhan ruas tol di wilayah permukiman itu sudah mendesak.

“Kalau ada swasta yang menginisiasi proyek tol, idealnya mereka sudah punya kalkulasi untuk kelayakan finansialnya. Kalau melihat lokasinya yang bagus di sekitar perumahan, saya kira proyek ini memiliki potensi trafik lalu lintas harian yang cukup tinggi dan feasible,” papar Djoko.

Ditemuai terpisah, Direktur Utama PT Jasa Marga Adityawarman mengatakan, pihaknya tidak akan ikut dalam tender tol Serpong – Balaraja. Namun, perseroan siap mengikuti tender proyek jalan tol Medan – Kualanamu tahap I sepanjang 25,8 kilometer.

“Kalau tol Medan – Kualanamu, kami memang berminat dan sudah siap ikut tender,” ujar dia.

Proyek tol Medan – Kualanamu dinilai akan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian di Kawasan Medan dan sekitarnya. Selain itu, Jasa Marga meminati tol Medan – Kualanamu, karena saat ini perseroan sudah mengelola tol Balmera yang sudah terhubung dengan ruas tol tersebut.

Serangan – Tanjung Benoa

Pada bagian lain, Jasa Marga sudah merealisasikan pembangunan tol Serangan – Tanjung Benoa Bali sepanjang 10 kilometer. Bahkan, saat ini progress pengerjaan proyek sudah melebihi target yang ditetapkan.

“Kami akan mempercepat proses pembangunannya, karena ini terkait dengan rencana operasional tol yang ditargetkan sebelum pelaksanaan APEC Summit September 2013,” kata Adityawarman kemarin.

Dia mengungkapkan, sebagai langkah percepatan, seluruh pembangunan tiap pancang jalan tol senilai Rp 2,3 triliun bakal dirampungkan pada akhir Desember 2012.

“Saat ini progress pembangunan rata-rata untuk semua seksi sudah sekitar 25%. Kami harapkan progres pembangunan lebih cepat dan sesuai target,” ujar dia.

Adityawarman menjelaskan, percepatan pembangunan tol Serangan – Tanjung Benoa dapat dilaksanakan, karena kebutuhan lahan tidak terlalu banyak. Dia menuturkan, lahan yang harus dibebaskan hanya seluas 5 hektare (ha). Lahan itu akan dipergunakan untuk pembangunan gerbang tol di pintu masuk dan keluar di Tanjung Benoa, dekat Bandara Ngurah Rai dan Nusa Dua.

Selain itu, perusahaan telah mendapatkan pendanaan sebesar Rp 1,73 triliun untuk membiayai konstruksi proyek tersebut. Dana itu berasal dari pinjaman sindikasi perbankan, yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Central Asia (BCA).

Achmad Ghani Ghazaly juga menuturkan, proses konstruksi tol Serangan – Tanjung Benoa bisa dipercepat, karena sebagian besar tanah yang dibutuhkan merupakan lahan milik pemegang saham proyek tol tersebut. Saat ini, pemda setempat tengah mempercepat proses pembebasan lahan sehingga persiapan lahan dapat dituntaskan akhir pekan ini.

“Jadi untuk tol Serangan – Tanjung Benoa ini, kami perkirakan bisa percepat prosesnya. Ini mengingat kebutuhan tanah sedikit dan dana sudah tersedia dari pinjaman perbankan,” ujar dia.

Proyek tok Serangan – Tanjung Benoa ditargetkan dioperasikan sebelum September 2013. Sedangkan, besaran tarif awal kendaraan golongan I diperkirakan Rp 10 ribu dengan masa konsesi 45 tahun.

Sementara itu, konsesi proyek tol Serangan – Tanjung Benoa dipegang oleh konsorsium PT Jasa Marga Bali Toll (JMBT). Sebanyak 60% saham JMBT dikuasai oleh Jasa Marga, 20% PT Pelindo III, dan 10% PT Angkasa Pura I. Kemudian, Bali Tourism Development Centre memiliki saham 1%, PT Hutama Karya 2%, PT Wijaya Karya 5%, dan PT Adhi Karya 2%.

 (Sumber Gambar http://jurnalibukota.wordpress.com/2011/09/05/)